Pengalamanku Menjadi Guru
1.
Perjalanan Mutasi Guru ke SMP Negeri 8 Kupang: Dari Adaptasi hingga Menjadi Pengawas Pendidikan
Pergi ke kebun memetik
melati,
Melati putih harum baunya.
Menjadi guru bukan sekadar profesi,
Namun panggilan jiwa untuk mencerdaskan sesama.
Perjalanan hidup
sebagai seorang guru tidak selalu berjalan lurus. Ada fase perubahan,
tantangan, bahkan pergumulan batin yang membentuk karakter dan panggilan hidup.
Itulah yang saya alami ketika menerima mutasi dari SD Negeri Kelapa Lima ke SMP
Negeri 8 Kupang, sebuah sekolah yang terletak di Jalan Perintis
Kemerdekaan, Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Tanggal 17 April 2018
menjadi awal perubahan besar dalam hidup saya. Hari itu saya menerima Surat
Keputusan mutasi, dan dua hari kemudian, tepatnya 19 April 2018, saya datang
melapor ke sekolah baru. Pagi itu saya berjalan kaki menuju sekolah dengan perasaan
campur aduk antara harapan dan ketidakpastian.
Pertemuan pertama saya
adalah dengan Ibu Zefriena Tulangow, S.Th., seorang guru Pendidikan Agama
Kristen Protestan yang berpengalaman. Sosok beliau begitu hangat, disiplin, dan
senang berbagi. Dari beliau, saya banyak belajar hal-hal baru yang belum saya
pahami, terutama terkait pembelajaran di tingkat SMP.
Selanjutnya, saya
bertemu dengan Plt. Kepala Sekolah saat itu, Bapak Lukas Soden, S.Pd. Beliau
menerima SK saya dengan baik, namun menyampaikan bahwa proses belajar sedang
berlangsung di tengah semester. Saya diminta untuk menyelesaikan tugas di
sekolah lama terlebih dahulu dan kembali aktif mengajar pada bulan Juli.
Saya pun kembali ke SD
Negeri Kelapa Lima dan menyelesaikan seluruh tanggung jawab dengan baik. Selama
kurang lebih tiga bulan, dari April hingga Juli 2018, saya mempersiapkan diri
secara serius menyusun RPP, mempelajari materi SMP, dan menyesuaikan diri
dengan dunia pembelajaran yang baru.
Tanggal 21 Juli 2018
menjadi awal resmi saya mengabdi di SMP Negeri 8 Kupang. Sebagai guru
bersertifikasi, saya harus memenuhi 24 jam mengajar, sehingga saya dipercaya
menangani 8 kelas mata pelajaran Agama Kristen. Selain itu, saya juga menjadi
wali kelas 8K kelas yang dikenal cukup menantang karena karakter siswa yang
kurang disiplin.
Namun, dengan
kesabaran, pendekatan yang tepat, dan pembinaan yang konsisten, perubahan mulai
terlihat. Dalam waktu satu tahun, siswa-siswa tersebut menunjukkan perkembangan
karakter yang sangat baik. Ini menjadi pengalaman berharga bahwa tidak ada
siswa yang “tidak bisa berubah” jika dibimbing dengan hati.
Pada tahun kedua, saya
dipercaya menjadi wali kelas 8C. Berbeda dengan sebelumnya, kelas ini terdiri
dari siswa-siswa yang sopan, cerdas, dan aktif. Mereka mampu bekerja sama,
berdiskusi, dan mengambil inisiatif dalam berbagai kegiatan. Bahkan, mereka pernah
meraih juara pertama dalam lomba kebersihan dan penataan kelas.
Selain tugas mengajar,
saya juga dipercaya sebagai Pembina Pramuka. Setiap hari Sabtu, kami mengadakan
latihan bersama. Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan, tetapi juga
membentuk karakter disiplin dan kerja sama siswa.
Tahun 2019 menjadi
tahun penuh pengalaman. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Bapak Blasius
Juni, S.Ag., yang juga aktif dalam kegiatan Pramuka, saya semakin berkembang
dalam pembinaan siswa. Pada tahun itu pula, saya mendapat kesempatan luar biasa
mengikuti Festival Panggung Ceria dan Lomba Gudep di Kota Malang, bersama 16
orang siswa- siswa SD Negeri Kelapa Lima . Saat ikut Lomba itu masih guru di SD.
Walaupun kami tidak
masuk dalam 10 besar, pengalaman tersebut sangat berharga. Kami belajar banyak
hal, menikmati kebersamaan, dan mengunjungi berbagai tempat seperti Situbondo
dan museum di Malang. Kegiatan seperti rappelling dan pencarian air terjun menjadi
pengalaman yang tidak terlupakan, penuh tantangan sekaligus sukacita.
Sekembalinya ke
Kupang, saya melanjutkan tugas dengan penuh semangat. Namun, menjelang tahun
2020, saya menghadapi sebuah panggilan yang tidak pernah saya harapkan menjadi
pengawas pendidikan.
Sejujurnya, saya
sempat menolak dalam hati. Sejak awal, saya mencintai dunia mengajar. Setelah
18 tahun mengabdi di SD dan kemudian mendapat kesempatan mengajar di SMP, saya
merasa telah menemukan tempat yang tepat. Menjadi pengawas bukanlah sesuatu
yang saya impikan.
Pengalaman masa lalu
dengan pengawas seringkali meninggalkan kesan yang kurang menyenangkan.
Kunjungan supervisi identik dengan tekanan, kritik, dan rasa cemas bagi guru.
Bahkan, malam sebelum supervisi sering kali menjadi malam tanpa tidur.
Namun, pada Mei 2020,
di tengah situasi menjelang pandemi COVID-19, saya menerima panggilan resmi
untuk mempersiapkan diri menerima SK sebagai pengawas. Saya sadar, ini bukan
sekadar pilihan pribadi, melainkan bagian dari rencana Tuhan dalam hidup saya.
Dengan hati yang mulai
terbuka, saya belajar menerima panggilan tersebut. Saya percaya bahwa setiap
proses yang sulit mengandung makna. Tidak ada keberhasilan yang datang tanpa
disiplin dan kerja keras. Dan pada akhirnya, hidup yang dijalani dengan setia
akan menjadi berkat bagi banyak orang.
Perjalanan ini
mengajarkan saya satu hal penting: ketika kita setia dalam setiap tahap
kehidupan, Tuhan akan membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan,
namun justru menjadi bagian terbaik dari rencana-Nya.
Menjadi guru adalah perjalanan panjang yang tidak selalu mudah, namun selalu bermakna. Setiap lelah yang dirasakan, setiap tantangan yang dihadapi, dan setiap air mata yang tersembunyi, semuanya akan terbayar saat melihat perubahan dalam diri peserta didik.
“Guru hebat bukan hanya yang mampu mengajar dengan baik, tetapi yang mampu
menginspirasi, membentuk karakter, dan meninggalkan jejak kebaikan dalam
kehidupan setiap anak didiknya.”
Teruslah melangkah dengan setia, karena dari tangan seorang guru, masa depan bangsa sedang dibentuk.

guru tanpa tanda jasa.
BalasHapus